Januari 05, 2009

KEKUFURAN SAHABAT ZIONISME.

Rangkuman diskusi minggu pagi [OBSESI] 4 Januari 2009


Bersamaan dengan datangnya tahun 2009 dan juga 1430 H, genangan darah juga melimpah dikawasan Gaza yang diakibatkan serangan tentara Israel. Dalih mereka adalah sebagai tindakan balasan atas serangan serangan roket Hamas selama ini, yang selalu diluncurkan dan diarahkan secara acak terhadap kota-kota di Israel. Tidak sedikit korban korban di fihak Israel akibat serangan ini. Hamas menganggap, karena Israel telah bertindak sewenang wenang terhadap rakyat Gaza. Hamas atas nama bangsa Palestina melakukan perlawanan dikarenakan dalih untuk mengambil kembali wilayahnya yang telah diduduki bangsa Israel.
Bangsa Palestina yang “terpecah” saat ini karena ada dua pemahaman besar terhadap usaha perjuangannya. Hamas yang memperoleh legitimasi rakyat Palestina lewat pemilu yang lalu, memilki visi perjuangan lewat tindakan militer.Sementara kelompok Fatah memilih lebih diplomatis, walaupun kebijaksanaannya tidak mendapat legitimasi rakyat Palestina. Namun demikian Amerika Serikat secara terang-terangan mendukung perjuangan Fatah dibawah kepemimpinan Abbas.Oleh karena progresifitas Hamas terhadap Israel lebih agresif lewat “rutinitas” roket roketnya yang setiap hari menghancurkan kota-kota di Israel, maka tindakan balasan Israel di tahun baru itulah sebagai balasan atas roket-roket Hamas.Ratusan ribu waraga sipil Palestina , orang tua, muda bahkan anak-anak menjadi korban serangan tentara Israel. Warga dunia mengutuk tindakan Israel tsb, Indonesia lewat beberapa aksi kemanusian bergerak pro aktif menuju ke Gaza. Yang terlihat jelas adalah aksi kemanusiaan Mercy, saat ini sedang ada di sana. Bahkan konon, beberapa organisasi mengirim pemuda-pemudanya untuk berjuang membantu Hamas.Bahkan kali ini pernyatan pemerintah dlam meyikapi sikap Israel dengan jelas disampaikan oleh kepala Negara, bahwa Indonesia mengutuk keras tindakan militer Israel tsb.

Ada berita mensinyalir tindakan tentara Israel dalam perang ini, karena didorong adanya kepuasan dalam diri para prajurit srael untuk melakukan tindakan dehumaniasi terhadap setiap warga Palestina. Demikian menurut berita tersebut atas hasil survei seorang psikolog jerman yang dilakukan terhadap para tentara Israel. Bila ini benar adanya, adalah sebuah tindakan yang mungkin menjadi “doktrin militer” Israel dalam rangka menanggulangi tekanan luarbiasa Palestina selama ini. Karena perang terbuka memang tidak mungkin, mengingat keterbatasan militer Palestina. Namun bangsa Palestina tetap melakukan perlawan dalam bentuk sporadis, namun efektif. Terbukti serangannya selama ini membuat”panik” Israel yang “terpancing” untuk melakukan serangan terbuka, yang justru kemudian menuai protes dunia. Harapan kita umat Islam dengan adanya fenomena ini, kemudian menyatukan negara-negara timur tengah untuk bersatu dan melakukan tekanan balik terhadap Israel. Namun hingga saat ini harapan itu tidak pernah terdengar. Bahkan konon Negara Negara tetangga Palestina menolak para korban perang tahun baru Gaza tersebut, karena kekawatiranya terhadap sangsi yang kelak akan dilakukan oleh sekutu terdekat Israel- Amerika Serikat.

Merujuk terhadap al Quran tentang adanya pernyataan Allah tentang bangsa Israel, sebagai bangsa yang terpilih [ Q: ] serta bagaimana sikap Rasulullah terhadap mereka ketika membangun peradaban Islam yang dimulai dari Medinah. Umat Islam kala itu selalu di hianati oleh bangsa Israel dalam berbagai kejadian-kejadian penting. Namun demiikian tindakan hukum dilaksanakan oleh Rasulullah tanpa meniadaakan/ menghilangkan bangsa ini. Rasulullah senantiasa memanfaatkan momentum penghianatan tersebut dalam rangka membangun solidaritas Islam. Pada ceritera lain. ketika Adam diciptakan, Allah memerintahkan kepada para malaikatnya untuk bersujud, karena semata-mata Adam memiliki kemulyaan. Kemulyaan yang dinyatakan oleh Allah dalam al Quran karena Adam/ manusia memiliki Ilmu pengetahuan. Hanya iblislah yang tidak mau melakukan perintah tersebut, karena dia menganggap iblislah yang lebih mulya daripada Adam. Bahkan iblis tidak berhenti hanya sampai penolakan bersujudnya, tetapi bertekad untuk selalu menggoda Adam dan keturunannya agar selalu melakukan kesesatan di dunia, Untuk keinginan iblis ini, Allah memberikan “mandat” tersebut kepada iblis, dengan satu pernyataan pula dari Allah bahwa mereka yang mampu melampaui godaan iblis akan medapat kemulyaan.
Kita sebagai manusia yang diberikan ilmu tadi, marilah kita lihat kata kunci dari kejadian-kejadian ini. Ada dua hal yang perlu kita cermati : pertama adalah Ilmu yang diberikan Allah pada kita manusia khususnya umat Islam. Kedua : adalah adanya “sparing partner” menjadi sangat diperlukan dalam rangka membangun Islam.

Melawan hegemoni kekuatan Zionis, bukan secara frontal dengan memboikot semua produk-produk mereka yang notabene sudah menjadi produk kebutuhan sehari-hari kita. Yang kita siasati adalah kebutuhan sehari-harinya justru yang kita berdayakan untuk membeli produk kita-sebagai produk pesaing. Sehingga timbul persaingan produksi, persaingan pasar. Persaingan inilah akan melahirkan kreatifitas untuk melahirkan produk-produk inofatif yang kemudian memenangkan pasar. Memenangkan pasar berarti menjadi pengendali pasar, mengendalikan harga, mengendalikan produksi. Mengendalikan pasar berarti mengendalikan ekonomi., inilah persaingan yang positip yang dibangun dengan “ilmu”

Seorang sahabat memberikan ilustrasi yang menarik . manakala dia melihat pemadangan dari puncak gedung di kawasan Mangga Dua , bagaimana maraknya kendaraan mewah yang parkir memadati area parkir. “ Dimana sebetulnya kemiskinan itu, pada kenyataannya pusat perbelanjaan padat dipenuhi warga kota yang bermobil?”. Sahabat lain mengatakan -hampir tipis kaitannya tapi ternyata sangat erat.- “ Kuota haji Indonesia adalah nomor dua setelah Iran, dengan kurang lebih tigaratusan ribu para calon jemaah haji pertahun, ternyata tidak mengubah budaya korupsi bangsa ini.”

Terkait dengan kata kunci pertama, kekufuran itu ternyata tumbuh subur pada jiwa yang tidak disertai “ilmu”. Dikatakan bahwa kemiskinan itu menjadi lahan subur untuk tumbuhnya kekufuran, betul!. Tapi ternyata kekufuran itu juga merebak subur pada materialisme, bahkan menjadi tuhan dalam hedonisme. Kita dimanjakan oleh negara-negar produsen, bukan untuk menjadi partner dalam memproduksi produk, tetapi untuk menjadi konsumen, karena tidak memiliki”ilmu”. Kita terbawa sentimenisme terhadap Zionisme, karena tidak dibekali “ilmu”.

“Ilmu” yang dimaksud adalah ilmu sejati yang didalamnya terkandung ketaqwaan dan ilmu dunia, inilah instrumen yang akan mengangkat manusia menuju kememulyaan seperti yang dijanjikan Tuhan.Dengan “ilmu” itu akan terlepas dari belenggu hedonesime yang menjajikan, tapi menyesatkan. Hendaknya dengan “ilmu” itu eksistensi zionisme menjadi motivator kita untuk lebih mampu bersaing dalam menguasai dunia.Dengan “ilmu” itu kita mengambil peluang untuk mampu menjadi muslim yang berjiwa rahmataan lil alamin.

agoesjoesoef jan 09